KORINDO SUMBER INSPIRASIKU

Senin, April 22, 2019

Indonesia. Satu kata Indonesia. Indonesia terngiang-ngiang di telinga. Beribu-ribu suara meneriakkan “Indonesia, tanah airku, tumpah darahku, tanah kelahiranku.” Dengan bangga, dan semangat menggebu bahwa “Ya, aku memang orang Indonesia asli, aku bangga berada di sini.” Sambil menyingsingakan lengan bajunya disertai guratan wajah berapi-api terpancar pada wajah-wajah negeri ini. Jika melihat orang-orang terdahulu, yang hidup pada masanya, meneriaki ”aku Indonesia” sambil membawa bambu runcing di tangannya.



Pertanyaan yang terkadang muncul dari beberapa sang pasang mata di penjuru dunia. Apa itu Indonesia? Siapa Indonesia? dan Bagaimana Indonesia?
Menurut Wikipedia, Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari 17.504 pulau. Dengan populasi hampir 270.054.853 jiwa berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik tahun 2018. Dengan data sensus tersebut, Indonesia merupakan negara yang berpenduduk paling besar keempat di dunia. Populasi di negara Indonesia yang berkisar 270 juta tersebut sebagian besar tinggal di Pulau Jawa.
Lain halnya jika melihat data sensus Badan Pusat Statistik tahun 2010. Jumlah penduduk pada tahun tersebut adalah 237.641.326 jiwa. Itu berarti ada peningkatan populasi penduduk dari tahun 2010 ke tahun 2018. Tidak hanya itu pula, sebanyak 118.320.256 jiwa terlahir di negeri ini, bertempat tinggal di daerah perkotaan yakni 49,79 persen dan 119.321.070 jiwa tinggal di daerah perdesaan yakni 50,21 persen.
Jika melihat penyebaran penduduk menurut pulau-pulau besar, seperti: Pulau Sumatra yang luasnya 25,2 persen dari luas seluruh wilayah Indonesia dihuni oleh 21,3 persen penduduk, Pulau Jawa yang luasnya 6,8 persen dihuni oleh 57,5 persen penduduk, Sedangkan Kalimantan yang luasnya 28,5 persen dihuni oleh 5,8 persen penduduk, Kemudian Sulawesi yang luasnya 9,9 persen dihuni oleh 7,3 persen penduduk, Lalu Maluku yang luasnya 4,1 persen dihuni oleh 1,1 persen penduduk, dan yang terakhir Papua yang luasnya 21,8 persen dihuni oleh 1,5 persen penduduk. Melihat data yang ada itu berarti Pulau Jawa memang dihuni oleh penduduk Indonesia paling banyak di urutan pertama. Padahal sejatinya, pulau-pulau luar Jawa masih luas untuk dihuni seperti Sumatra, Kalimamtan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.



Mengapa tidak merata penyebaran penduduknya?
Minimnya penduduk yang berminat tinggal di daerah selain pulau Jawa itulah yang menjadikan penyebaran penduduk negara ini tidak merata. Dari hasil wawancara dengan beberapa warga di kota penulis, yakni di Kabupaten Tuban bahwa rata-rata dari mereka takut hidup di luar Jawa karena rata-rata daerah luar Jawa tersebut rawan bencana. Sebagian dari mereka cenderung memilih keamanan untuk keluarga mereka.
Jika penyebarannya tidak merata, maka pantas dan wajar saja jika daerah luar Jawa sebagian besar termasuk ke dalam 3T. Daerah luar Jawa apalagi 3T memang sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah.
Daerah 3T adalah daerah terdepan, terluar, dan tertinggal. Pada daerah-daerah 3T tersebut kebanyakan listrik tidak ada, masyarakatnya memiliki kecenderungan buta huruf, masyarakat juga tidak memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, dan terkadang terjadi peperangan antar saudara. Contoh perang antar saudara di Aceh, Papua, NTT, Natuna.
Pemerintah sebenarnya sudah memikirkan akan nasib para warga masyarakat Indonesia yang tinggal pada daerah 3T. Kepedulian tersebut salah satunya dengan mengirim guru SM3T. Guru-guru yang lolos seleksi mengikuti SM3T akan dikirimkan untuk mengabdi di daerah 3T selama satu tahun. Setelah itu, mereka dapat pulang kembali ke kampung halamannya dan mendapat gratis biaya PPG. Itu adalah sistem yang bagus dari pemerintah.
Namun beberapa guru yang lolos SM3T pun ada yang mengundurkan diri karena tidak siap mental. Guru yang lolos SM3T, mereka yang telah siap mental harus berjuang mencerdaskan anak bangsa. Itu pun mereka dikirim ke daerah 3T hanya satu tahun. Lalu bagaimana dengan nasib bangsa daerah 3T jika setiap tahun mereka menerima guru baru. Sang anak didik beberapa kali harus beradaptasi dengan guru baru mereka. Belum lagi, saat anak didik sudah nyaman dengan guru mereka yang lama, namun karena masa tugas telah berakhir membuat mereka berpisah.
Padahal melihat kendala yang ada juga banyak sekali. Kendala tersebut yakni banyak anak di daerah 3T yang kurang biaya untuk sekolah. Kedua orang tuanya tidak memliki perekonomian yang cukup. Selain itu, mereka harus menempuh perjalanan menuju sekolah dengan sangat sulit. Kemudian, keterbatasan guru yang mengajar di daerah 3T juga merupakan sesuatu yang harus diatasi. Para guru yang mengajar di sekolah-sekolah kebanyakan tamatan SMA, namun tidak semua yang tamatan SMA. Meski begitu guru-guru yang ada pun juga masih tidak cukup untuk mengajar seluruh mata pelajaran di sekolah. Melihat anak-anak di daerah 3T yang masih banyak kurang bisa membaca. Selain itu dalam usia belajar mereka harusnya sekolah namun dituntut oleh orang tuanya untuk bekerja. Itu berarti harus ada campur tangan dari pihak-pihak yang peduli untuk benar-benar memperhatikan.
Saya salut dengan Yayasan Korindo yang telah menyumbang, memberikan penanganan yang luar biasa. Kepedulian terhadap daerah 3T tidak tanggung-tanggung, bahkan ketika Donggala mendapat musibah, Korindo memberikan dana bantuan 7.000.000.000. Nominal yang sangat fantastis.



Perekonomian di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) tentunya masih jauh tertinggal bila dibandingkan dengan ibukota dan kota besar lainnya di Indonesia. Padahal daerah 3T ini juga biasanya memiliki berbagai keunikan, terutama pada pesona dan kekayaan alamnya. Pembangunan infrastruktur yang belum merata menjadi salah satu penyebabnya. KORINDO yang memiliki komitmen untuk mengembangkan usaha di berbagai wilayah 3T dengan melakukan pembangunan infrastruktur secara besar-besaran.
Pada tanggal 28 September 2018, melalui  PT Korindo Abadi yang beroperasi di Kabupaten Boven Digoel Provinsi Papua meresmikan Jembatan Kali Totora yang berada di Desa Prabu-Asiki. Jembatan ini tentunya dibutuhkan masyarakat sekitar untuk menjalankan perekonomian
KORINDO Group menyediakan sebagian lahan operasional kebun sawitnya untuk dijadikan lahan persawahan oleh masyarakat setempat. Tujuannya agar masyarakat tidak mengalami kelaparan. Tidak hanya berupa lahan, KORINDO juga memberikan berbagai bantuan lainnya seperti traktor hingga penyuluhan pertanian.
Bekerjasama dengan  KOICA (Korea International Cooperation Agency), KORINDO membangun klinik Asiki di kampung ASIKI. Kampung ini berada di perbatasan Papua dan PNG. Hebatnya lagi klinik Asiki ini modern bahkan meraih predikat Klinik Terbaik di tingkat Propinsi Papua versi BPJS Kesehatan pada tahun 2017 
(https://www.kekenaima.com/2019/02/komitmen-korindo-untuk-mendukung-pembangunan-kawasan-3t.html)

Membangun negeri ini, tidaklah mudah. Membangun negeri ini membutuhkan manusia-manusia yang sadar akan pentingnya keutuhan dan kecerdasan bangsa. Yayasan Korindo adalah salah satu yayasan yang menciptakan gerakan peduli terhadap bangsa. Padahal sebenarnya, masyarakat yang lainnya harus berkontribusi terhadap situasi ini. Seluruh warga Indonesia bersama-sama membangun daerah 3T.
Sebenarnya tidak hanya daerah luar Jawa yang tergolong daerah 3T. Namun daerah di Pulau Jawa pun juga masih ada hal yang perlu diperhatikan. Lingkungan rumah tinggal saya contohnya. Saya tinggal di Tuban, Jawa Timur. Saya menyoroti wilayah yang tertinggal seperti di Jaten Cilik, Rengel, Tuban. Pada lingkungan daerah ini tidak sepenuhnya jalanan bisa dilewati dengan baik. Memang ada beberapa jalanan yang sudah beraspal, namun terletak beberapa titik yang sudah berongga dan membutuhkan perawatan.




Selain itu, rumah-rumah penduduk yang ada juga belum memadai. Tidak adanya listrik dan penerangan. Beberapa rumah yang masih terbuat dari kayu.



Pembangunan daerah 3T harus digalakkan untuk menunjang majunya bangsa ini. Tidak hanya satu orang dan dua orang saja yang diharuskan peduli tentang bangsa ini. Namun seluruh elemen masyarakat perlu membangun kemajuan bangsa ini. Jika pemerintah belum bisa menaikkan gaji guru di wilayah 3T, maka diperlukan kesadaran dan keikhlasan bangsa Indonesia untuk menjadi relawan terbaik bangsa. Jika pemerintah belum bisa secara menyeluruh melihat pembangunan negeri ini, maka lingkungan setempat 3T didatangi relawan dan diajarkan sesuatu keterampilan. Keterampilan membatik misalnya, membuat kerajinan anyaman,  membuat kerajinan dari tanah liat, dan menjahit. Diharapkan dengan keterampilan yang mereka punya, maka sumber pendapatan daerah akan meningkat. Itu pula pembangunan daerah 3T akan maju dan berkembang.



Semoga bangsa Indonsia menjadi bangsa yang lebih baik. Salam satu jiwa untuk negeri ini. (ig:@rizkyefpe)

Korindo selalu di hati. Terima kasih Korindo. 
Korindo
Bangun perbatasan jadi terasnya Indonesia
Perubahan untuk Indonesia yang lebih baik

You Might Also Like

2 Komentar

  1. Keren kak artikelnya memang sudha sepantasnya kita membangun daerah 3T. Aku juga ikutan kak kunjungan balik ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih kak. Semangat kak semoga bermanfaat tulisan blog kita

      Hapus