Saturday, May 12, 2012

Teks, Ko-Teks, Konteks, Tema, Topik

Diposkan oleh Rizky Fitriyanti Pradani di 5:53 PM
1.      KONSEP
a.    Teks
ü  Teks merupakan wujud nyata dari suatu ujaran. Artinya, struktur kalimat yang keluar berupa ujaran atau tulisan. Sebuah teks tidak sekadar unit tata bahasa atau rentetan kalimat yang tampak, akan tetapi teks merupakan unit semantik yang mempunyai satu kesatuan arti.
ü  Berdasarkan saluran yang digunakan dalam berkomunikasi, teks dibedakan menjadi teks tulis dan teks lisan.
b.   Ko-Teks
ü  Ko-teks merupakan unsur kebahasaan yang ada di dalam teks yang berfungsi sebagai pembentuk makna sebuah teks ujaran. Kehadiran ko-teks pada sebuah teks dapat terlihat jelas, tersurat atau eksplisit. Maka, unsur kebahasaan yang termasuk ko-teks diwujudkan dengan satuan lingual berupa kata, frase, klausa, kalimat atau bahkan wacana. Bentuk-bentuk lingual tersebut dapat merujuk pada hal-hal atau konsep yang akan dijelaskan pada teks sebelum atau sesudahnya.
ü  Ko-teks dalam sebuah teks dapat berupa kata ganti, kata kerja bantu, preposisi, konjungsi, dan berbagai bentuk deiksis.
c.    Konteks
ü  Konteks itu seperti latar, situasi, peristiwa, dan kondisi. Dalam komunikasi, konteks dapat berupa siapa yang mengkomuniasikan, dengan siapa dan mengapa; dalam jenis khalayak situasi apa; melalui medium apa; bagaimana perbedaan perkembangan komunikasi, dan hubungan untuk masing-masing pihak.
ü  Dalam wujudnya konteks linguistik berupa unsur bahasa sedangkan konteks ekstralinguistik adalah alam di luar bahasa yang menimbulkan makna dalam ujaran.
ü  Konteks sebuah teks dapat berupa konteks situasi dan konteks budaya.
ü  Tiga unsur yang perlu diperhatikan dalam konteks situasi, yatu: medan teks, pelibat teks, sarana teks.
ü  Konteks pemakaian bahasa dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu: konteks fisik, konteks epistemis, konteks linguistik, konteks sosial.
d.   Tema
ü  Tema merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. tema bersifat abstrak.
ü  Dalam pengertian umum, tema merupakan ide sentral sebuah karya atau aktivitas. Ide sentral itu dapat melingkupi keseluruhan isi atau aktivitas yang dilakukan dalam tema tersebut.
e.    Topik
ü  Topik merupakan salah satu unsur yang penting dalam wacana percakapan. Topik dalam wacana percakapan sering berganti-ganti. Dalam sebuah percakapan, peserta dapat membicarakan beberapa topik secara bergantian.
ü  Topik difokuskan dan yang diterangkan oleh bagian yang lain (yaitu komentar). Dalam konteks wacana, topik merupakan suatu ide atau hal yang dibicarakan dan dikembangkan sehingga membentuk sebuah wacana.
ü  Topik mengacu pada pengertian yang lebih konkrit. Topik dapat menjadi bagian dari tema dan juga bagian dari judul. Namun, perbedaan tema dan topik tidak dapat dijelaskan secara tegas. Keduanya dapat berimpitan dan tidak mempunyai batas.
ü  Analisis topik dalam wacana tidak cukup dengan menganalisis sebuah kalimat. Topik dapat diidentifikasi apabila analisis wacana memahami konteks wacana yang mendukungnya.

2.      CONTOH-CONTOH
a.    Teks
ü  Hukum tidak hanya untuk orang kaya. Semua orang mempunyai derajat yang sama di depan hukum. Hukum tidak memandang kaya dan miskin, pria atau wanita, tua atau muda, pembesar ata rakyat jelat, dan TNI atau bukan TNI. Jadi, hukum berlaku untuk siapapun, kapanpun, dan di manapun.
Contoh teks di atas menggunakan ragam bahasa teks tulis. Bahasa tulis itu ditujukan kepada pembaca sehingga ide atau proposisi yang diungkapkan harus sejelas-jelasnya. Konsekuensinya, kalimatnya lengkap dan cenderung panjang.


b.   Ko-Teks
ü  Contoh 1 Pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang arif. Dia dikenal sebagai raja yang sangat peduli dengan rakyatnya.
Contoh 2 Di sebuah kota yang besar terdapat sebuah rumah kecil yang atapnya hanya terbuat dari kardus. Di sanalah lelaki itu tinggal.
ü  Pada contoh 1, terdapat  beberapa kata yang dicetak tebal. Kata yang dicetak tebal tersebut adalah ko-teks. Ko-teks pada contoh 1 merupakan ko-teks dengan wujud kata ganti. Kata dia merujuk pada teks sebelumnya, yaitu seorang raja yang arif. Bentuk nya, pada rakyatnya juga merujuk pada kata sebelumnya yaitu dia yang merujuk seorang raja yang arif. Kalimat pertama pada teks tersebut merupakan prasyarat kehadiran kalimat kedua dan kalimat ketiga. Jika kalimat pertama dihilangkan, maka makna teks tersebut tidak akan utuh atau tidak dapat dipahami. Begitu pula pada contoh 2, ko-teks yang terdapat di contoh 2 merupakan ko-teks dengan wujud preposisi, yaitu kata depan di pada kata di sanalah.
c.    Konteks
ü  Kulitmu halus sekali.
Contoh ujaran tersebut jika diucapkan kepada anak perempuan berumur lima tahun atau perempuan muda berumur dua puluh tahun atau seorang nenek yang berumur tujuh puluh tahun, akan mempunyai pengertian yang berbeda-beda. Kepada anak berumur lima tahun atau gadis dua puluh tahun, mungkin ujaran itu ditafsirkan sebagai pujiaan sedangkan jika pendengarnya nenek berumur tujuh puluh tahun maka akan ditafsirkan sebagai penghinaan.
d.   Tema
ü  Ungkapan, kawin paksa merupakan tema karya sastra tahun 1920-an atau dalam memperingati hari bumi sedunia dilaksanakan lomba karya tulis yang bertema penyelamatan bumi. Biasanya, tema dirumuskan dalam frase atau kalimat yang bersifat umum.
e.    Topik
ü  Contoh 1
(Nina dan Rama sedang belajar menggambar)
Nina   : “Dik Lama (RAMA) ngak punya mobin (MOBIL), ya!”
Rama  : “Punya. Punya sepeda motor (MOTOR) (sambil tertawa)”
Nina   : “Mobilku bagus. Walnanya (WARNANYA) hijau.”
Rama  : “Ini (sambil menunjuk gambar) punyaku bagus.”
Pada contoh di atas tampak kedua peserta percakapan itu mempunyai topik yang berbeda. Keduanya terlibat dalam satu peristiwa percakapan tetapi keduanya mempunyai topik yang berbeda. Dengan demikian, jelas bahwa topik yang dibicarakan dalam percakapan dapat lebih dari satu topik meskipun dalam sebuah peristiwa percakapan.
ü  Contoh 2
Amir   : “Kenaikan rekening listrik ini merepotkan juga.”
Bayu   : “Listrik kami sering terganggu, Mungkin ada orang yang menggaet kabel.
Amir   : “Kabel di rumah kami sudah 25 tahun umurnya. Bisa korslet,  katanya.”
Amir   : “Korslet terjadi di tetangga semalam. Seluruh daerah sana jadi gelap. Repot juga, sebab ada anak kecil.”
Terdapat suatu kohesi dalam percakapan di atas, karena ujaran berikutnya seakan-akan menyatakan sesuatu yang disebut dalam ujaran sebelumnya tetapi karena ujaran itu sebenarnya tidak membicarakan topik yang dikemukakan oleh ujaran sebelumnya, terjadilah ketidakselarasan pada isi wacana. Percakapan bersaing seperti pada contoh (1) dan (2), tidak terhindarkan karena tiap pembicara sudah ada keinginan menyampaikan topik yang merupakan sesuatu yang telah dialaminya, yang dianggap menarik untuk disampaikan kepada orang lain (Samsuri, 1988:21).

3.      POKOK-POKOK PIKIRAN
a.      Teks
ü Teks bukan sesuatu yang dapat diberi batasan kalimat, melainkan lebih besar dari kalimat.
ü Teks adalah suatu peristiwa rekaman komunikatif.
ü Teks dapat berupa teka tulis dan teks lisan
b.     Ko-Teks
ü Ko-teks adalah unsur kebahasaan yang ada di dalam teks.
ü Ko-teks bersifat eksplisit atau tersurat.
ü Ko-teks dapat berupa preposisi, kata ganti, konjungsi, dan pengacuan.
c.       Konteks
ü Konteks mengacu kepada lingkungan dan keadaan bahasa.
ü Konteks penutur lebih memperhatikan hubungan antara penutur dan ujarannya.
ü Konteks harus dipahami sebagai suatu rangkaian proposisi dari partisipan dalam suatu wacana.
ü Intuisi dasar dari penerapan suatu konteks terdapat jika suatu kalimat dituturkan, maka banyak hal yang akan muncul dan tidak sekadar ungkapan maknanya.



d.     Tema
ü Tema hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca dalam sebuah tulisan.
ü Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut.
ü Tema bersifat abstrak
e.      Topik
ü Topik mengacu pada pengertian yang lebih konkrit.
ü Topik dapat menjadi bagian dari tema dan juga bagian dari judul.
ü Topik merupakan salah satu unsur yang penting dalam wacana percakapan.

4 komentar:

Anonymous said...

Nuhun bu, artiklena lumayan.... bisa ngebantu bwt pencerahan...kaloh boleh, sy btuh bantuanna bwt bahan tntang hubungan antara teks genre dan kultur budaya>>> nursa.farizky@yahoo.com

Salsabila Ramadhaningrum said...

keren banget. terimakasih banyak

Rizky Fitriyanti Pradani said...

sama-sama kak Salsa

Anonymous said...

makasih...sangat membantu pemahaman saya

Post a Comment

Karena Perbedaan Itulah Yang Menyatukan Kita. ( ^_^) Slideshow: Kelas’s trip to Surabaya, Java, Indonesia was created by TripAdvisor. See another Surabaya slideshow. Create your own stunning slideshow with our free photo slideshow maker.
 

Serba Serbi Sastra dan Duniaku Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea